Rabu, 27 Mei 2015

Tugas Kesehatan Mental II

FENOMENA STRESS PADA WANITA

·         Pengertian Stres

Stres dalam arti secara umum adalah perasaan tertekan, cemas dan tegang. Dalam bahasa sehari– hari stres di kenal sebagai stimulus atau respon yang menuntut individu untuk melakukan penyesuaian. Menurut Lazarus & Folkman (1986) stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh atau kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Stres juga adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis ( Chapplin, 1999). Stres juga diterangkan sebagai suatu istilah yang digunakan dalam ilmu perilaku dan ilmu alam untuk mengindikasikan situasi atau kondisi fisik, biologis dan psikologis organisme yang memberikan tekanan kepada organisme itu sehingga ia berada di atas ambang batas kekuatan adaptifnya. (McGrath, dan Wedford dalam Arend dkk, 1997). 

Menurut Lazarus & Folkman (1986) stres memiliki memiliki tiga bentuk yaitu:
1.      Stimulus, yaitu stres merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang menimbulkan stres atau disebut juga dengan stressor.
2.      Respon, yaitu stres yang merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stres. Respon yang muncul dapat secara psikologis, seperti: jantung berdebar, gemetar, pusing, serta respon psikologis seperti: takut, cemas, sulit berkonsentrasi, dan mudah tersinggung.
3.      Proses, yaitu stres digambarkan sebagai suatu proses dimana individu secara aktif dapat mempengaruhi dampak stres melalui strategi tingkah laku, kognisi maupun afeksi.

Rice (2002) mengatakan bahwa stres adalah suatu kejadian atau stimulus lingkungan yang menyebabkan individu merasa tegang. Atkinson (2000) mengemukakan bahwa stres mengacu pada peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Situasi ini disebut sebagai penyebab stres dan reaksi individu terhadap situasi stres ini sebagai respon stres. 
Berdasarkan berbagai penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu keadaan yang menekan diri individu. Stres merupakan mekanisme yang kompleks dan menghasilkan respon yang saling terkait baik fisiologis, psikologis, maupun perilaku pada individu yang mengalaminya,
dimana mekanisme tersebut bersifat individual yang sifatnya berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain.

·       Penyebab Stress

Secara umum faktor penyebab stres digolongkan menjadi beberapa kelompok berikut:

1.        Tekanan fisik: kerja otot/olahraga yang berat, kerja otak yang terlalu lama, dan sebagainya.
2.        Tekanan psikologis: hubungan suami istri/orang tua-anak, persaingan antar saudara/teman kerja, hubungan sosial lainnya, etika moral dan sebagainya.
3.        Tekanan sosial ekonomi: kesulitan ekonomi, rasialisme dan sebagainya.


·       Gejala Stress Pada Wanita

Gejala Fisik:
Ketegangan, sakit kepala dan menangis adalah gejala yang paling menonjol pada wanita. Frekuensi dan durasi sakit kepala bervariasi dari orang ke orang. Selain sakit kepala, gejala lainnya seperti sakit punggung atau kram perut. Gejala utama lainnya adalah insomnia, yaitu kurang tidur. Jika seorang wanita menderita stres berlebih, dia tidak bisa tidur dengan baik di malam hari. Hal ini bahkan dapat terjadi selama beberapa malam yang akibatnya menghasilkan sakit kepala parah dan lekas marah. Mungkin juga menderita siklus bulanan tidak teratur, tekanan darah tinggi, sakit maag, migrain, rambut rontok, penyakit kulit, dan lain-lain, karena stres.

Gejala stres lainnya pada wanita adalah diare, sesak di dada, kesulitan bernafas dan kehilangan minat seksual. Terkadang, gejala-gejala tersebut memiliki hasil yang lebih dalam pada kesehatan dan pikiran seorang wanita. Dia mungkin memiliki pikiran yang konstan tentang kematian, mengembangkan kecenderungan bunuh diri, mulai merokok atau meminum alkohol atau bahkan obat-obatan. Penyakit kulit, ruam, berat badan turun juga dapat menjadi reaksi yang disebabkan karena stres pada wanita.

Gejala Perilaku:
Pemarah merupakan salah satu tanda-tanda perilaku yang paling umum dari stress. Siksaan ini sering diikuti dengan gejala emosional dan perilaku lainnya seperti kemarahan, perubahan suasana hati dan menangis. Khawatir, kesulitan dalam konsentrasi, frustrasi, dll, juga dialami ketika seorang wanita berada di bawah tegangan konstan. Gejala-gejala ini dapat menyebabkan reaksi negatif seperti kecurigaan, sering marah, pelupa, rendah diri dan depresi. Kehilangan nafsu makan, atau makanan berlebih juga merupakan tanda-tanda stres.

·       Dampak Stress Pada Wanita

1.      Mengurangi Libido
Peristiwa besar dalam hidup yang menyebabkan stress, seperti memulai pekerjaan baru atau pindah ke kota baru, bisa menurunkan libido, menurut Dr. Irwin Goldstein, M.D. Hal ini bisa terjadi ketika peningkatan kadar kortisol menekan hormon seks alami tubuh.

2.      Haid Yang Tidak Teratur
Stress akut dan kronis secara fundamental dapat mengubah keseimbangan hormon tubuh, yang dapat menyebabkan haid yang tidak kunjung datang, terlambat atau tidak teratur. Para peneliti juga menemukan bahwa wanita yang merasa terbebani dengan pekerjaannya mempunyai resiko 50 persen lebih tinggi untuk siklus pendek (kurang dari 24 hari) daripada wanita yang tidak bekerja.

3.      Jerawat
Tingginya tingkat kortisol dalam tubuh dapat menyebabkan produksi minyak berlebih yang memberikan kontribusi untuk perkembangbiakkan jerawat. Sebuah studi pada tahun 2003 lalu menemukan bahwa mahasiswa perempuan mempunyai jerawat yang lebih banyak selama masa ujian karena peningkatan stress.

4.      Rambut Rontok
Stress secara emosional maupun psikologis secara signifikan dapat menyebabkan ketidakseimbangan fisiologis yang memberikan kontribusi untuk rambut rontok. Stress dapat mengganggu siklus perkembangan rambut, menyebabkan rambut mudah rontok. Meskipun Anda mungkin tidak menyadari ketika rambut Anda mengalami kerontokan selama atau setelah melewati masa stress, perubahan dapat terjadi tiga sampai enam bulan kemudian.

5.      Pencernaan Yang Buruk
Stress yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem pencernaan yang disebabkan oleh peningkatan asam lambung, sehingga menyebabkan gangguan pencernaan dan ketidaknyamanan, dalam beberapa kasus memberikan kontribusi terhadap perkembangan IBS dan bisul. Menurut womenshealth.gov, mengurangi stress adalah kunci untuk menjaga sistem pencernaan yang sehat.

6.      Depresi
Perempuan dua kali lebih rentan mengalami depresi daripada laki-laki. Penelitian terbaru menunjukkan perbedaan antara respon terhadap stress dan reaktivitas antara kedua jenis kelamin untuk menjelaskan perbedaan ini. Peningkatan kadar kortisol dihasilkan dari stress kronis jangka panjang, stress akibat pekerjaan kelas rendah atau stress akut dari peristiwa sulit yang terjadi dalam hidup seperti kematian atau perceraian dapat bertindak sebagai pemicu depresi.

7.      Insomnia
Sebagian besar dari kita pernah merasakan kegelisahan pada malam  hari, memikirkan kejadian atau masalah yang terjadi di tempat kerja. Tidak mengherankan jika stress adalah penyebab umum dari insomnia, yang kemudian dapat menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, mudah marah, dan kurangnya motivasi.

8.      Penambahan Berat Badan
Penelitian telah menghubungkan tingkat kortisol yang lebih tinggi pada pinggang hingga pinggul pada wanita (yaitu lebih berat di sekitar area perut), serta penurunan metabolisme. Tingkat stress yang tinggi juga berhubungan dengan peningkatan nafsu makan dan keinginan untuk mengonsumsi makanan manis, yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

CONTOH KASUS
Wanita yang tengah hamil, dituntut tidak hanya harus siap secara fisik, tetapi juga harus siap secara mental. Secara fisik pada wanita yang tengah hamil memang mudah ditebak,  seperti perubahan bentuk tubuh dengan badan yang semakin membesar, munculnya jerawat di wajah atau kulit muka yang mengelupas. Namun perubahan secara mental pada ibu hamil sangat sulit ditebak dan tidak selalu sama terjadinya pada setiap ibu hamil ataupun pada setiap kehamilan.
Hadirnya janin di dalam rahim, mempengaruhi emosi si ibu. Apabila pengaruh emosi ibu tidak didukung oleh lingkungan keluarga yang harmonis ataupun lingkungan tempat tinggal yang kondusif, maka hal ini akan mengakibatkan stres pada saat hamil.
Menurut Dokter Eko Handayani MPsi dari bagian psikologi klinis anak Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, stres pada ibu hamil pasti akan memberikan akibat pada janin yang dikandungnya, karena posisi janin yang berada di dalam rahim dapat merespons apa yang sedang dialami oleh ibu. "Berdasarkan penelitian, ibu hamil yang mengalami stres akan meningkatkan risiko melahirkan bayi prematur dan bayi yang lebih kecil. Bahkan bahaya stres pada ibu hamil dapat mengakibatkan janin keguguran, " kata Eko. Ia juga mengungkapkan bahwa ia sering
menghadapi kasus anak hiperaktif yang dibawa orangtuanya. Kemudian saat ditelusuri riwayat kehamilan, maka diketahui bahwa ibunya pernah mengalami stres.
Secara psikologis, stres pada ibu hamil dapat dibagi dalam tiga tahapan, sambung Eko. Tahap pertama adalah pada triwulan pertama, yaitu pada saat usia kehamilan satu hingga tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut, biasanya ibu belum terbiasa dengan keadaannya, di mana adanya perubahan hormon yang mempengaruhi kejiwaan ibu, sehingga ibu sering merasa kesal atau sedih. Selain itu, ibu hamil ada juga yang mengalami mual-mual dan morning sickness, yang mengakibatkan stres dan gelisah.
Tahap kedua saat triwulan kedua, yaitu pada saat usia kehamilan empat hingga enam bulan. Dalam kurun waktu tersebut, biasanya ibu sudah merasa tenang, karena telah terbiasanya dengan keadaannya. Di tahap ini, ibu hamil sudah dapat melakukan aktivitas, termasuk aktivitas hubungan suami istri.
Selanjutnya pada tahap ketiga yakni trimester ketiga, stres pada ibu hamil akan meningkat kembali. Hal itu dapat terjadi dikarenakan kondisi kehamilan semakin membesar. Kondisi itu tidak jarang memunculkan masalah seperti posisi tidur yang kurang nyaman dan mudah terserang rasa lelah. Dan semakin bertambah dekatnya waktu persalinan pun akan membuat tingkat stres ibu semakin tinggi. Perasaan cemas muncul bisa dikarenakan si ibu memikirkan proses melahirkan serta kondisi bayi yang akan dilahirkan.

ANALISIS
Menurut contoh kasus diatas  penyebab stress ibu hamil bisa berupa :

  • Perubahan yang terjadi pada diri sang ibu hamil akibat perubahan hormonal yang mempengaruhi perubahan secara fisik pada diri ibu itu sendiri. Misalnya adanya tanda gejala mual muntah berlebihan pada diri ibu hamil contohnya. Atau juga bisa seperti contohnya adalah perubahan bentuk tubuh dengan badan yang semakin membesar, munculnya jerawat di wajah atau kulit muka yang mengelupas
  • Rasa cemas berlebihan ketika nantinya akan menghadapi proses persalinan bayinya. Bila ibu kurang pengetahuan yang benar mengenai bagaimana sebuah proses kelahiran yang normal tentunya pada sebagian ibu-ibu hamil bisa menjadikan sebuah penyebab stres tersendiri.
  • Kehamilan yang tidak diharapkan. Hal ini juga bisa merupakan hal yang menjadi faktor resiko timbulnya rasa cemas sedih stres pada diri sang ibu bila kehamilan yang dijalaninya saat ini adalah merupakan proses kehamilan yang tidak diharapkan. Baik itu oleh sang ibu sendiri, sang suami maupun bagi keluarganya.
  • Masalah Ekonomi Keuangan. hal ini juga bisa menjadikan penyebab paling sering terhadap para ibu hamil. Mempunyai bayi baru berarti biaya hidup akan meningkat dan banyak pula orang tua yang stress karenanya seperti biaya perawatan sebelum melahirkan, biaya melahirkan, perlengkapan bayi, dan jangka panjang lainnya tentang masalah keuangan seperti menabung untuk pendidikan kuliah anak, dan hal-hal lainnya yang membuat stres yang signifikan. Hal ini dapat diperburuk jika kebetulan saat itu ayah atau kepala keluarga sedang adalam masa kehilangan pekerjaan atau ketidakbahagiaan dengan lingkungan kerja.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?
1.        Menjalani masa-masa kehamilannya dengan rasa bahagia dan senang sehingga ketika nantinya sang janin bayi lahir dan akan menjadi buah hati dan buah cinta antara suami istri. Dan hal ini bisa dijadikan satu cara untuk mempererat keharmonisan dalam sebuah rumah tangga yang sedang dibina berdua.
2.        Memperbanyak mencari pengetahuan dan informasi seputar bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Kehamilan. Baik itu dalam hal menjaga kesehatan ibu hamil itu sendiri dan juga terlebih menjaga kesehatan janin bayi dalam kandungannya.
3.        Menjaga pola makan dan pola hidup sehat selama masa kehamilan sembilan bulan. Dan banyak mengkonsumsi makanan sehat untuk ibu hamil.
4.        Banyak bertanya pada ibu-ibu yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam proses kehamilan dan proses persalinan serta masa menyusui sang bayi nantinya.
5.        Istirahat nyaman dan cukup selain di rumah, pilih tempat berlibur yang nyaman dan tenang. Perhatikan pula posisi istirahat yang tepat dan posisi tidur yang menyehatkan bagi ibu hamil dan membuat nyaman.
6.        Mendapatkan dukungan yang penuh dari suami dan juga keluarga besar dalam menjalankan masa sembilan bulan mengandung akan sangat memberikan nilai yang sangat bermakna bagi sang istri. Dan bisa merupakan salah satu cara dalam rangka mengatasi stres emosional dalam kehamilan juga
7.        Bila ada masalah, komunikasikan dengan baik dengan sang suami, bila berhubungan dengan kesehatan kehamilan. Berkonsultasi dengan dokter kandungan terpercaya bisa menjadi solusi pilihan.
8.        Senantiasa berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan kesehatan dalam masa-masa kehamilan sampai tiba waktunya nanti Proses Persalinan telah tiba masanya. Dan bisa melampaui masa persalinan dengan baik pula.



Hubungan antara Kesehatan Mental dengan Social Support


A. Social Support

·         Dukungan sosial (social support) didefinisikan oleh Gottlieb (dalam Smet 1994) sebagai informasi verbal dan non verbal, saran subyek di dalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan berpengaruh pada tingkah laku penerimanya.
·         Sarason dkk. 2008 dalam (http://www.Skripsi.tesis) mengartikan dukungan sosial adalah ada atau tidaknya seseorang yang dapat dipercaya dapat membantu sehingga individu mengetahui bahwa dirinya dihargai
·         Sarafino dalam Smet (1994) bahwa dukungan sosial mengacu pada kesenangan yang dirasakan, penghargaan, kepedulian penerima dukugan yang didapat dari orang atau kelompok lain.
·         Johnson dan Johnson dalam Toifur dan Prawitasari, (2003) yang menyatakan dukungan sosial sebagai keberadaan orang lain yang bisa diandalkan untuk diminta bantuan, dorongan dan penerimaan apabila individu mengalami kesulitan atau masalah.
·         Menurut Watson, 1984 Dukungan sosial merupakan sumber pengatasan yang mempengaruhi sejak proses penilaian terhadap ancaman sampai pada usaha mengatasi masalah.
>> Dapat diambil kesimpulan bahwa Sosial Support atau dukungan sosial ini merupakan keberadaan orang lain yang memberikan suatu informasi dalam bentuk verbal atau nonverbal yang bertujuan untuk memberikan dorongan atau bantuan dalam menyelesaikan masalah dan juga mengacu pada suatu kesenangan serta kepedulian sehingga membuat tumbuhnya percaya diri.


Bentuk Dukungan
Sheridan dan Radmacher (1992), sarafino (1998) serta Taylor (1999) membagi dukungan sosial kedalam lima bentuk. Yaitu :

    1. Dukungan instrumental (tangible assisstance)
Bentuk dukungan ini merupakan penyediaan materi yang dapat memberikan pertolongan langsung seperti pinjaman uang, pemberian barang, makanan serta pelayanan. Bentuk dukungan ini dapat mengurangi stress karena individu dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi. Dukungan instumental sangat diperlukan terutama dalam mengatasi masalah dengan lebih mudah.

2. Dukungan informasional
Bentuk dukungan ini melibatkan pemberian informasi, saran atau umpan balik tentang situasi dan kondisi individu, Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah dengan lebih mudah.

3. Dukungan emosional
Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diperdulikan dan dicintai oleh sumber dukungan sosial sehingga individu dapat menghadapi masalah dengan lebih baik. Dukungan ini sangat penting dalam menghadapi keadaan yang dianggap tidak dapat dikontrol.

4. Dukungan pada harga diri
Bentuk dukungan ini berupa penghargaan positif pada individu, pemberian semangat, persetujuan pada pendapat induividu, perbandingan yang positif dengan individu lain. Bentuk dukungan ini membantu individu dalam membangun harga diri dan kompetensi.

5. Dukungan dari kelompok sosial
Bentuk dukungan ini akan membuat individu merasa anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktifitas sosial dengannya. Dengan begitu individu akan merasa memiliki teman senasib.


Aspek-Aspek Dukungan Sosial
Menurut Sarafino dalam Lismudiyati dan Hastjarjo (2003). Dukungan sosial merupakan transaksi interpersonal dapat melibatkan satu atau lebih aspek-aspek berikut ini:

a. Dukungan emosional, merupakan dukungan yang melibat empati, ekspresi rasa, kehangatan, kepedulian dan perhatian terhadap individu sehingga individu tersebut merasa ada yang memberikan perhatian dan mendengarkan keluh kesah orang lain.

b. Dukungan penghargaan, merupakan dukungan yang terjadi lewat hormat (penghargaan) positif untuk orang tersebut, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang itu dengan orangorang lain yang melibatkan pernyataan setuju dan penilaian positif terhadap ide-ide, perasaan, penguatan dan perbandingan sosial yang digunakan untuk dorongan agar maju.

c. Dukungan instrumental, merupakan bentuk dukungan yang melibatkan bantuan langsung sesuai dengan kebutuhan individu, misalnya berupa bantuan finansial atau bantuan, yang dapat berwujud barang, pelayanan, dukungan keluarga.

d. Dukungan informatif, merupakan bentuk dukungan berupa nasehat. Petunjukpetunjuk, saran atau umpan balik, pemberian informasi bagaimana cara memecahkan persoalan sehingga individu mendapat jalan keluar.

Sumber-Sumber Dukungan
Sosial Menurut Rook dan Dooley dalam Wahyuono (2003) ada dua sumber dukungan sosial yaitu :

a. Sumber artifisial adalah dukungan yang dirancang ke dalam kebutuhan primer seseorang misalnya dukungan sosial akibat bencana alam melalui berbagai sumbangan sosial.

b. Sumber naturali adalah dukungan ini diterima seseorang melalui interaksi sosial dalam kehidupannya secara spontan dengan orang yang berada di sekitarnya, misalnya anggota keluarga (orang tua, kakak, kerabat) teman dekat atau relasi.

B. Hubungan antara Kesehatan Mental dan Social Support

Menurut (Albrencht & Goldsmith, 2003; Cobb, 1976; Lyyra & Heikkinen, 2006; Motl, McAuley, Snook, & Gliottoni, 2009; Schaefer, Coyne, & Lazarus, 1981) bahwa dukungan sosial tidak hanya membantu untuk membat perasaan kita lebih baik atau membantu kita untuk mengatasi masalah. Dukungan sosial juga mendorong kita untuk meningkatkan kesehatan, termasuk kesehatan fisik, kesehatan psikologis dan seluruh kesejateraan. Berikut beberapa hasil kesehatan yang berasal dari 
dukungan sosial :

1.      Penyesuaian psikologis
2.      peningkatan efektivitas
3.      baik mengatasi peristiwa menjengkelkan
4.      tahan terhadap penyakit
5.      pemulihan dari penyakit
6.      mengurangi angka kematian

kenapa dukungan sosial ini berpengaruh terhadap kesehatan mental? Dukungan sosial ini merupkan sebuah titik tolak dari sebuah komunikasi. Komunikasi merupakan kebutuhan utama manusia, karena manusia merupakan makhluk sosial, esehatan mental dapat dikontrol melalui komunikasi.

Contoh : seorang yang memiliki dukungan sosial dari orang tua untuk memilih makanan dengan daik (sehat dan bergizi) lebih memungkinkan mereka untuk memakan makanan yang sehat dan bergizi tersebut dibandingan dengan orang-orang yang kekurangan dukungan sosial dari orang tuanya.

>>> Dari pengertian yang tertera diatas juga dapat menyimpulkan mengapa kesehatan mental dapat berkaitan dengan sosical support. Dimana kesehatan mental merupakan kesehatan yang meliputi juwa dan juga tubuh, sehingga dukungan dari sosial atau lingkungan ini berpengaruh untuk kesehatan individu, kesehatan mental meliputi fisiologis dan juga psikologis, dukungan dari lingkungan akan merangsang psikologisnya sehingga menimbulkan keyakinan dan tingkat percaya dirinya bahwa meraka dapat mencapai tujuannya yaitu sehat. Dari rangsangan terhadap psikologis yang menimbulkan keyakinan akan membuat keadaan fisik pun lebih membaik.

SUMBER :
·         Shutterstock, Junker. (2011). Mattson’s Health as Communication Nexus. Property of Kendall Hunt Publishing Co. from
·         Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan mental. Purwokerto: Stain Press  
·         Mitchell, T. R., & Larson, J. R. (1987). People in Organizations: An Introduction to Organizational    Behavior (3rd ed.). USA: McGraw-Hill, Inc.
·         Basuki, A.M Heru. 2008. Psikologi Umum ; Seri Diktat Kuliah. Universitas Gunadarma
·         Losyk, Bob. 2005. Kendalikan Stres Anda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama



Jumat, 27 Maret 2015

(Tugas Softskill Kesehatan Mental)

SEJARAH KESEHATAN MENTAL

Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karena masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat. Berbeda dengan gangguan fisik yang dapat dengan relatif mudah dideteksi, orang yang mengalami gangguan kesehatan mental sering kali tidak terdeteksi. Sekalipun oleh anggota keluarganya sendiri. Hal ini lebih karena mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa, bukan sebagai gangguan.
Khusus untuk masyarakat I ndonesia, masalah kesehatan mental saat ini belum begitu mendapat perhatian yang serius. Krisis yang saat ini melanda membuat perhatian terhadap kesehatan mental kurang terpikirkan. Orang masih fokus pada masalah kuratif, kurang memperhatikan hal-hal preventif untuk menjaga mental supaya tetap sehat. Tingkat pendidikan yang beragam dan terbatasnya pengetahuan mengenai perilaku manusia turut  membawa dampak kurangnya kepekaan masyarakat terhadap anggotanya yang mestinya mendapatkan pertolongan di bidang kesehatan mental. Faktor budaya pun seringkali membuat masyarakat memiliki pandangan yang beragam mengenai penderita gangguan mental. Oleh sebab itu, berikut dipaparkan sejarah mengenai perkembangan kesehatan mental, terutama di Amerika dan Eropa, dan semoga paparan ini menjadi referensi berbagai pandangan mengenai kesehatan mental yang saat ini ada di Indonesia.
A.GANGGUAN MENTAL TIDAK DIANGGAP SEBAGAI SAKIT
v    (Tahun 1600 dan sebelumnya)
Dukun asli Amerika (Indian), sering juga disebut sebagai “penyembuh” (healer,shaman)orang yang mengalami gangguan mental dengan cara memanggil kekuatan supranatural dan mejalani ritual penebusan dan penyucian.
Pandangan masyarakat saat itu menganggap bahwa orang yang mengalami gangguan mental adalah karena dimasuki oleh roh-roh yang ada di sekitar. Mereka dianggap melakukan kesalahan kepada roh-roh atau menjadi medium dari roh-roh untuk menyatakan keinginannya. Oleh karena itu, mereka sering kali tidak dianggap sakit, sehingga mereka tidak disingkirkan dan dibuang seta masih mendapatkan tempat dalam masyarakat.

v    Tahun 1692
Mendapatkan pengaruh para imigran dari Eropa yang beragama Nasrani, di Amerika orang yang bergangguan mental saat itu sering dianggap terkena sihir/guna-guna atau dirasuki setan. Ini merupakan penjelasan yang diterima secara umum sehingga masyarakat takut dan membenci mereka yang dianggap memiliki kekuatan sihir. Bahkan pengadilan pernah memvonis 19 orang untuk digantung karena dianggap memiliki sihir. Padahal mereka yang dianggap memiliki kekuatan sihir kemungkinan besar mengalami gangguan mental sehingga hidup mereka tampak aneh dan berbeda bagi kebanyakan orang.

Sejarah kesehatan mental di Eropa, khususnya Inggris, agak sedikit berbeda, sebelum abad ke-17, orang gila disamakan dengan penjahat/kriminal, sehingga mereka dimasukkan ke dalam penjara.

John Locke (1690) dalam tulisannya yan berjudul An Essay Concerning Understanding, menyatakan bahwa terdapat derajad kegilaan dalam diri setiap orang yang disebabkan oleh emosi yang memaksa orang untuk memunculkan ide-ide salah dan tidak masuk akal secara terus-menerus. Kegilaan adalah ketidakmampuan akal untuk mengeluarkan gagasan yang berhubungan dengan pengalaman secara tpat. Pandangan John Locke ini bertahan di Eropa sampai abad ke-18.


B.  GANGGUAN MENTAL DIANGGAP EBAGAI SAKIT

ü    Tahun 1724
Pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan tahkhayul yang hidup di masyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa itu sendiri. Pada saat ini benih-benih pendekatan secara medis mulai dikenalkan, yaitu dengan memberikan penjelasan masalah kejiwaan sebagai akibat gangguan yang terjadi di tubuh.
Pada abad ke-17 dan 18 individu yang menderita penyakit mental berada dalam penderitaan yang besar di tangan masyarakat Amerika. Mereka dilihat sebagai seorang yang dirasuki setan atau dicirikan sebagai dikuasai sifat-sifat kebinatangan sehingga mereka menjadi subjek penanganan yang menyedihkan. Penyiksaan fisik maupun mental merupakan hal yang umum dan penggunaan pembatas fisik yang meluas seperti jacket yang ketat dengan tangan yang berat dan kaki yang dirantai-mengeluarkan pasien dari martabat dan kebebasannya. Para pendiri  pada abad ke 19, seperti Phillip Pinel di Perancis dan Dorothea Dix, membuat lompatan besar dengan mempromosikan penanganan manusiawi bagi penderita penyakit mental, tetapi kondisinya masih jauh dari ideal. Phillipe Pinel ditunjuk sebagai dokter yang mengawasi Rumah sakit Bicetre, Paris (rumah sakit jiwa untuk pria) pada tahun 1793. Dia memutuskan uuntuk tidak meranntai pasien gila. Dia kemudian ditempatkan di Salpetriere (rumah sakit jiwa untuk wanita) pada tahun 1795.

ü    Tahun 1812
Benjamin Rush (1745-1813) menjadi salah satu pengacara mula-mula yang menangani masalah penanganan secara manusiawi untuk penyakit mental dengan publikasinya yang berjudul Medical Inquiries and Observations Upon Diseases of the Mind.  Ini merupakan buku tesk psikiatri Amerika pertama.

Antara tahun 1830-1860 di Inggris timbul optimisme dalam menangani pasien sakit jiwa (Therapeutic Optimism).  Hal ini disebabkan berkembangkannya teori dan teknik dalam menangani orang sakit jiwa di rumah sakit jiwa. Pada masa ini tumbuh kepercayaan bahwa penanganan di rumah sakit jiwa merupakan hal yang benar dan cara ilmiah untuk menyembuhkan kegilaan. Pada tahun 1842 psikiater mulai masuk dan mendapatkan peranan penting di rumah sakit, menggantikan ahli hukum yang selama ini ternyata membuahkan kegagalan, maka tidak lama kemudian muncul masa terapi psimisme (therapeutic pesimism) . ini teruma dipengaruhi oleh sosialisme. Darwin menyatakan bahwa gangguan mental adalah perkembangan evolusi sehingga merupakan bawaan dan tidak mungkin diubah lagi.


ü    Tahun 1843
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit, tapi hanya ada 2.561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di Amerika Serikat.

ü   Tahun 1908
Clifford Beers (1876-1943) menderita manis depresif pada tahun 1900. Dia merupakan lulusan Yale dan seorang bisnisman, yang kemudian mengalami gangguan setelah mengalami sakit dan saudara laki-lakinya meninggal. Setelah mencoba bunuh diri, Dia di masukkan ke rumah sakit mental swasta di Connecticut. Dia menjadi subjek penanganan yang tidak  manusiawi dan mengalami penyiksaan fisik dan mental di bawah kekuasaan orang  yang tidak terlatih dan tidak kompoten di rumah sakit.     Beers kemudian menghabiskan beberapa tahun di berbaggai negeri Middletown, Connecticut. Penanganan tidak manusiawi yang diterimanya di institusi ini mencetuskan keberanian untuk memperbaharui perawatan bagi individu yang menderita penyakit mental di Amerika Serikat. Pada tahun 1908 dia menulis buku yang berjudul A Mind That Found Itself, merupakan laporan pengalamannya sendiri sebagai pasien sakit mental dan secara jelas menggambarkan kekejaman lembaga perawatan. Buku tersebut memberikan akibat yang segera, menyebarakan visinya mengenai gerakan kesehatan mental. Beers kemudian mendirikan Masyarakat Connecticut untuk Mental Higiene yang kemudian pada tahun berikutnya berubah menjadi Komite Nasional untuk Mental Higience (the National for Mental Hygience). Yang merupakan pendahulu Asosiasi Kesehatan Mental Nasional sekarang ini.

Tujuan Asosiasi ini adalah untuk:
-          Memperbaiki sikap masyarakat terhadap penyakit mmental dan penderita dan penderita sakit mental.
-          Memperbaiki pelayanan terhadap penderita sakit mental
-          Bekerja untuk pencegahan penyakit mental dan mempromosikan kesehatan mental.

ü    Tahun 1909
Sigmund Freud mengunjungi Amerika dan mengajar psikoanalisa di Universitas Clarck di Worcester, Massachusetts.

ü   Tahun 1910
Emil Kraeplin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer. Dia juga mengembangkan alat tes yang dapat digunakan untuk medeteksi adanya gangguan epilepsi.

ü   Tahun 1918
Asosiasi Psikoanalisa Amerika membuat aturan bahwa hanya orang yang telah lulus dari sekolah kedokteran dan mejalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon  untuk pelatihan psikoanalisa.

ü   Tahun 1920-an
Komite Naional untuk Mental Higiene menghasilkan satu set model undang-undang komitmen yang dimasukkan ke dalam aturan pada beberapa negara bagian. Komite juga mmembantu penelitian-peenelitian yang berpengaruh pada kesehatan mental, penyakit mental, dan treatmen yang membawa perubahan nyata pada sistem perawatan kesehatan mental.

Harry Stack Sullivan yang mengawasi pasien Scizhofrenia di Rumah Sakit Sheppard-Pratt Hospital menunjukkan pengaruh lingkungan terapeutik ketika para paien dapat dikembalikan ke masyarakat.

Pada tahun 1920-1930 di Eropa terjadi perubahan treatmen dalam menangani gangguan mental. Perubahan ini berkat pengaruh teori Freud yang pada masa itu menjadi terkenal. Perubahan treatmen tersebut meliputi :

-          Treatmen di dalam rumah sakit kurang diminati, diganti treatmen yang dilakukan di luar rumah sakit.
-          Treatmen di lakukan tidak memerlukan sertifikasi
-          Treatmen dilakukan dirumah sakit.

ü   Tahun 1930-an
Psikiater lebih menginjeksikan insulin yang menyebabakan shock dan koma sementara sebagai suatu treatmen untuk penderita schizofrenia.

ü   Tahun 1936
Agas Moniz mempublikasikan suatu laporan mengenai lobotomi frontal manusia yang pertama. Akibatnya antara tahun 1936 sampai pertengahan 1950-an, diperkirakan 20.000 prosedur pembedahan ini digunakan terhadap pasien mental Amerika.

ü   Tahun 1940-an
Elektropika, yaitu terapi dengan cara menngaplikasikan listrik ke otak. Pertama kali digunakan di rumah sakit Amerika untuk menangani penyakit mental. Pada tahun 1940-an-1950 dimulainya perawatan masyarakat bagi penderita gangguan mental Inggris.

ü   Tahun 1947-an
Fountain House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang-orang yang mengalami sakit mental.

ü   Tahun 1950
Dibentuk National Association of Mental Health (NAMH) yang merupakan merger dari tiga organisasi, yaitu National Commite for Mental Hygiene, National Mental Health Foundatio, dan Psychiatric Foundation. Lembaga baru ini melanjutkan misi Beers dengan lebih jelas. Melalui program televisi, distribusi literatur dan media lainnya. NAMH melanjutkan mendidik publik Amerika pada isu-isu kesehatan mental-mental dan mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental.

ü   Tahun 1952
Obat antiseptik konvensional pertama, yaitu chlorpromazine, diperkenalkan untuk menangani pasien schizoprenia dan gangguan mental utama lainnya.


ü    Tahun 1960-an
Obat-obat antisptik konvensional, seperti haloperidol, digunakan pertama kali untuk mengontrol simtom-simtom yang positif (nyata) pada penderita psikosis, yang memberikan ukuran yang nyata dan penting karena membuat pasien tenang. Hal ini memberikan ukuran yang nyata dan penting karena membuat pasien tenang. Hal ini kemudian menjadi keharusan untuk digunakan pada permulaan  bagia pasien yang gaduh dan kacau. Lithium kemudian diketemukan dan menjadi obat yang merevolusi treatmen bagi penderita manis depresif.

Media Inggris mulai mengungkapkan kesehatan mental dengan menampilkan orang-orang yang pernah mengalami sakit mental untuk menceritakan pengalamn mereka. Pada masa ini segala hal yang tabu berkaitan dengan mental mulai dibuka dan dibicarakan secara umum.


C. GANGGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI BUKAN SAKIT

·         Tahun 1961
Thomas Scasz membuat tulisan yang berjudul The Myth of Mental Ilness, yang mengemukakan dasar teiori yang menyatakan bahwa “sakit mental” sebenarnya tidaklah betul-betul sakit”, tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan karena harus bereaksi terhadap lingkungan.

·         Tahun 1962
Ada 422.000 orang yang tinggal dirumah sakit untuk perawatan psikiatris di Amerika Serikat.

·         Tahun 1970
Mulainya deinstitusionalisasi massal. Pasien dan keluarga mereka kembali pada sumber-sumber mereka sendiri sebagai akibat kurangnya program-program bagi pasien yang telah keluar dari rumah sakit untuk rehabilitasi dan reintegrasi kemabali ke masyarakat.

·         Tahun 1979
NAMH menjadi the National Health Association (NMHA)

·         Tahun 1980
Munculnya perawatan yang terencana, yaitu dengan opname dirumah sakit dalam jangka waktu yang pendek dan treatmen masyarakat menjadi standar bagi perawatan penyakit mental. Ini tidak terlepas dari peranan NHMA yang menggalang dukungan dari akar rumput dan bekerja sama dengan pemerintah dalam menghasilkan the Mental Health Systems Act of 1980. Akta tersebut memungkin tumbuhnya pusat-pusat kesehatan mental masyarakat Amerika yang mengijinkan individu dengan penyakit mental untuk tinggal dalam rumah dan masyarakat mereka dengan masa opname yang pendek.




D. MELAWAN DISKRIMINASI TERHADAP GANGGUAN MENTAL

v  Tahun 1990
NMHA memainkan peran penting dalam memunculkan Disabilities Act,  yang melindungi warga Amerika yang secara mental dan fisik disable dari diskriminasi pada beberapa wilayah, seperti pekerjaan, akomodasi publik, transportasi, telekomunikasi, dan pelayanan pemerintah pusat dan lokal. Sementara itu, teknologi penggambaran otak digunakan untuk mempelajari perkembangan penyakit mental utama dengan lebih baik lagi.

v  Tahun 1994
Obat antiseptik atipikal yang pertama dikenalkan ini. Ini merupakan obat antipsikotik baru pertama setelah hampir 20 tahun penggunaan konvensional.

v  Tahun 1997
Peneliti menemukan kaitan genetik pada gangguan bipolar yang menunjukkan bahwa penyakit ini diturunkan.

Berdasarkan sejarah kesehatan mental di atas, dapat disimpulkan bahwa ternyata pandangan masyarakat terhadap apa yang disebut sebagai sakit mental/sakit jiwa/gangguan mental ternyata berbeda-beda dan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Makna gangguan mental yang berbeda-beda tersebut membawa implikasi yang berbeda juga dalam menangani individu yang terkena gangguan mental.

Bila gangguan mental dipahami sebagai karena mengalami kerasukan roh seperti yang dimaknai oleh masyarakat Indian dan juga sebagai masyarakat Indonesia, individu yang mengalaminya bisa saja malah dipandang memiliki kelebihan khusus sehingga mendapatkan kedudukan khusus masyarakat. Atau kalaupun gangguan mental yang mengalaminya akan mendapatkan ritual-ritual khusus supaya dapat dipulihkan. Setidaknya, mereka tidak mendapatkan stigma yang negatif, karena masyarakat menanggap mereka tidak sakit sehingga masih dapat menerima kehadiran mereka.

Gangguan mental bisa dipahami sebagai kerasukan setan, atau akibat sihir. Biasanya ini karena pengaruh agama monoteis yang dianut oleh masyarakat setempat. Akibatnya perlakuan individu yang mengalami gangguan mental menjadi berbeda. Ritual masih tetap diadakan, tapi perlakuan masyarakat sekitar terhadap si penderita menjadi negatif. Penderita biasanya ditolak dan diasingkan, karena sedikit banyak dianggap berbahaya atau membawa akibat negatif bagi sekitarnya. Namun bisa saja pada beberapa kasus, penderitanya malah dianggap sebagai sebagai Nabi atau wakil Tuhan sehingga justru menarik banyak pengikut meskipun ajarannya secara logika ttidak mengacu pada akal sehat.

Gangguan mental juga bisa dimaknai bukan penyakit, tetapi sebagai tindakan kriminal seperti yang pernah dipahami oleh masyarakat Inggris. Penderitanya lalu dimasukkan dalam penjara dan mendapatkan perlakuan seperti penjahat pada umumnya.

Gangguan mental pernah dimaknai sebagai ketidakmampuan untuk berpikir rasional. Orang yang terganggu mentalnya dipandang  memiliki pola pikir  irasional. Ini terutam dipengaruhi oleh filsafat rasinalisme dan emperisme yang saat itu memiliki pengaruh yang kuat di Eropa. Oleh karena itu gangguan masih belum dimaknai sebagai sakit.

Dunia medis memberikan pandangan tersendiri terhadap pemahaman mengenai gangguan mental. Dunia medis memandang penderita gangguan mental sebagai betul-betul mengalami sakit. Dunia medis melihat sakit mental sebagai berakar dari sakit kebutuhan, terutama di otak, sehingga penanganan penderita gangguan mental menjadi mirip penderita sakit fisik, yaitu melalui medikasi, hospitalisasi, bahkan operasi/ppembedahan. Pandangan medis ini, sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan sampai sekarang ini masih menjadi arus utama yang memengaruhi pemahaman orang mengenai kesehatan mental.

Ilmu perilaku yang semakin berkembang juga memberikan pemahaman tersendiri mengenai gangguan mental. Berdasarkan pandangan ini, penderita gangguan  dimaknai sebagai ketidak mampuan mereka untuk melakukan penyesuain diri yang sesuai  denga realitanya. Individu terganggu karena  memiliki  perilaku yang tidak adaptiff, sehingga penangannya adalah dengan mendidik individu yang bersangkutan untuk menghilangkan perilaku yang tidak adaptiif dan menggantinya dengan perilaku yang lebih adaptif. Menurut pandangan ini, gangguan mental dihubungkan dengan lingkungan (ekologi) individuu sehingga pemulihan individu yyang bersangkutan selalu dikaitkan dengan lingkungannya. Inilah yang menandai penanganan individu yang bergangguan tidak lagi dirumah sakit, tetapi di tengah lingkungan keluarganya.

Masih ada lagi pandangan-pandangan lain mengenai gangguan mental, seperti aliran antipsikiatri yang pendapatnya justru bertolak belakang dengan pandangan medis mengenai sakit mental. Tentu saja pandangan tersebut juga membawa dampak perbedaan dalam penannganan terhadap individu yang mengalami gangguan mental. Memahami setiap pandangan yang muncul mengenai sakit mental menolong kita untuk memiliki gambaran yang menyeluruh dan integral mengenai apa itu gangguan mental yang sesungguhnya. Ini juga akan membantu untuk melakukan upaya-upaya dalam penganan atau treatmen terhadap individu yang mengalami gangguan mental, sebab setiap pandangan yang muncul dan berkembang mengenai gangguan mental, sedikit banyak memiliki kebenaran yang perlu diperhatikan. Apalagi masalah gangguan mental bukanlah semata-mata gejala fisik saja. Masih banyak wilayah-wilayah yang belum terjangkau oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang sat ini dimiliki, sehingga upaya-upaya untuk mewujudkan kesehatan mental , tidak bisa dilakukan berdasarkan pandangan yang berat sebelah saja dari sudut pandang tertentu.
                                                                                                                                                                  
 Konsep Sehat

Pengertian Sehat, Kesehatan dan Sehat Mental

a.      DEFINISI SEHAT.

Sehat (Health) secara umum dapat dipahami sebagai kesejahteraan secara penuh (keadaan yang sempurna) baik secara fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah. Sedangkan di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/ 1992 menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis. World Health Organization
(WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.Dan memiliki 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya.
Jadi Konsep Sehat merupakan suatu keadaan dimana seseorang duikatakan normal dan sesuai dengan kaidah dan standart yang di terima dalam suatu komunitas atau masyarakyat, dan mempunyai suatu keadaan dimanan fisik mental dan sosialnya tidak tergangu dan dapat melalukan peranya sebagai anggota dalm suatu komunitas atau masyarakyat
Pengertian dan Pendapat dari Para ahli mengenai Kesehatan Mental
a.      Arti kata Kesehatan Mental
Kesehatan Mental merupakan alih bahasa dari Mental Hygiene atau Mental Health berasal  dari kata Hygiene dan Mental. Secara etimologi Hygiene dari kata Hygea yaitu, nama Dewi Kesehatan Yunani kuno yang mempunyai tugas mengurus masalah kesehatan manusia di dunia. Kemudian muncul kata hygieneuntuk  menunjukkan  suatu kegiatan yang bertujuan mencapai hygiene. Sedangkan mental berasal dari kata latin Mens dan Mentis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, dan semangat.
b.      Kesehatan Mental menurut Para Ahli
Menurut Dr. Jalaluddin dalam bukunya “Psikologi Agama” bahwa:
“Kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan)”.
Sedangkan menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yangoptimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.

Zakiah Daradjat mendefenisikan bahwa mental yang sehat adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat. Jika mental sehat dicapai, maka individu memiliki integrasi, penyesuaian dan identifikasi positif terhadap orang lain. Dalam hal ini, individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi mandiri dan mencapai integrasi tingkah lak

Musthafa Fahmi, mengatakan kesehatan jiwa adalah bebas dari gejala-gejala penyakit jiwa dan gangguan kejiwaan.
Zakiah Daradjat, Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psichose). Definisi ini banyak dianut di kalangan psikiatri (kedokteran jiwa) yang memandang manusia dari sudut sehat atau sakitnya.
Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan tempat ia hidup
Pepkin’s
Sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh dan fungsi yang dapat mengadakan penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dari luar.
Allport, manusia sehat adalah manusia yang mencapai kematangan.
Maslow, 
manusia sehat adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan dirinya dan mencapai kebahagiaan.
Kesehatan mental menurut UU No.3/1961 adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.

Dari beberapa defenisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dipahami bahwa orang yang sehat mentalnya adalah terwujudnya keharmonisan dalam fungs fisik,ijiwa dan sosial serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagiaan dan kepuasan dalam dirinya. Seseorang dikatakan memiliki mental yang sehat, bila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa dan memanfatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya.

Perbedaan Konsep Kesehatan mental pada budaya barat dan timur

Definisi diberikan kepada masing-masing budaya, namun kebanyakan melihat kebudayaan sebagai seperangkat pedoman yang memandu bagaimana mereka memandang dunia, merespon secara emosional, dan berperilaku di dalamnya atau pedoman untuk hidup. Pemahaman terhadap sesuatu adalah suatu hal yang cukup kuat mendapat pengaruh budaya, sudut pandang terhadap suatu permasalahan seringkali dipengaruhi oleh budaya yang melatar belakangi, baik dalam proses memahami masalah atau pun dalam menyelesaikan masalah. Banyak hal dalam kehidupan yang dipengaruhi oleh budaya, kesehatan mental dan gerakan kesehatan mental juga dipengatuhi oleh budaya.
Dalam kesehatan mental, faktor kebudayaan juga memegang peran penting. Apakah seseorang itu dikatakan sehat atau sakit mental bergantung pada kebudayaannya (Marsella dan White, 1984). Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh (Wallace, 1963) meliputi :

•Kebudayaan yang mendukung dan menghambat kesehatan mental.
•Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental.
•Berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, dan
•Upaya peningkatan dan pencegahan gannguan mental dalam telaah budaya.

Selain itu budaya juga mempengaruhi tindakan penanganan yang dilakukan terhadap gangguan mental itu sendiri. Dengan kata lain Konsep kesehatan mental pada suatu budaya tertentu harus dipahami dari hal-hal yang dianggap mempunyai arti dan bermakna pada suatu budaya tertentu, sehingga harus dipahami dari nilai-nilai dan falsafah suatu budaya tertentu.
Ada perbedaan konsep kesehatan mental budaya barat dan timur Barat lebih memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan Timur lebih bersifat holistik, yaitu melihat sehat lebih secara menyeluruh saling berkaitan sehingga berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit.
Model-model Kesehatan Barat dan Timur
Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.

•Model Biomedis (Freund, 1991) memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu. Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis. Ketiga, setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konsep tubuh adalah objel yang perlu diatur dan dikontrol.

•Model Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.

•Model Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.


DAFTAR PUSTAKA
v  Siswanto. 2007. Kesehatan Mental “ Konsep, Cakupan dan Perkembangan”. Yogyakarta. Penerbit Andi

Jumat, 09 Januari 2015

Tugas Psikologi Dan Teknologi Internet

Global Brain dan Peran Internet

Global Brain adalah konseptualisasi dari jaringan di seluruh dunia yang dibentuk oleh semua orang di dunia bersama-sama dengan teknologi informasi dan komunikasi yang menghubungkan mereka menjadi cerdas dalam mengatur dirinya sendiri. Internet menjadi lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih menyeluruh, semakin mengikat kita bersama-sama ke dalam sistem pengolahan informasi tunggal yang berfungsi seperti sistem saraf di bumi. Kecerdasan jaringan ini bersifat kolektif atau didistribusikan, tidak terpusat atau local dalam setiap individu tertentu, organisasi atau sistem komputer.
Internet adalah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung. Internet itu sendiri juga mempunyai dampak yang positif yaitu semua manusia yang mengakses internet akan mendapatkan berbagai macam informasi dengan cepat dan lengkap. Namun, selain mempunyai dampak positif internet tersebut juga mempunyai dampak negatif yaitu, seperti halnya merusak moral masyarakat jika disalahgunakan dengan mengakses atau membuka situs yang pornografi atau perjudian.

Peran internet sebagai mediasi yang memungkinkan terbentuknya berbagai model consciousness dan mendoro
ng terbentuknya collective unconsciousness.
1. Consciousness
Sadar atau kesadaran kolektif adalah seperangkat keyakinan bersama, gagasan dan sikap moral yang beroperasi sebagai kekuatan pemersatuan dalam masyarakat. Istilah ini diperkenalkan oleh sosiologi Perancis Emile Durkheim di Divisinya Buruh di Masyarakat pada tahun 1893.
Menurut teori Jung, seperti yang dikutip Alwisol (2004) dalam bukunya Psikologi Kepribadian,consciousness muncul pada awal kehidupan, bahkan mungkin sebelum dilahirkan. Secara berangsur kesadaran bayi yang umum-kasar, menjadi ssemakin spesifik ketika bayi itu mulai mengenal manusia dan ojek disekitarnya. Menurut Jung, hasil pertama dari proses diferensiasi kesadaran itu adalah ego. Sebagai organisasi kesadaran, ego berperan penting dalam menentukan persepsi, pikiran, perasaan dan ingatan yang bisa masuk ke kesadaran. Tanpa seleksi ego, jiwa manusia bisa menjadi kacau karena terbanjiri oleh pengalaman yang semua bebas masuk ke kesadaran. Dengan menyaring pengalaman, ego berusaha memelihara keutuhan dalam kepribaddian dan memberi orang perasaan kontinuitas dan identitas.
2. Unconsciousness
Alam tidak sadar (Unconscious) menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan, maupun insting yang tak kita sadari tetapi ternyata mendorong perkataan, perasaan, dan tindakan kita. Sekalipun kita sadar akan perilaku kita yang nyata, sering kali kita tidak menyadari proses mental yang ada di balik perilaku tersebut. Menurutnya ketidaksadaran mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam sadar, termasuk segala sesuatu yang memang asalnya alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting serta segala sesuatu yang termasuk keduanya dan alam tak sadar adalah sumber dari motivasi dan dorongan yang ada dalam diri manusia
Menurut Freud keberadaan alam tidak sadar ini hanya bisa dibuktikan secara tidak langsung. Baginya alam tidak sadar merupakan penjelasan dari makna yang ada dibalik mimpi, kesalahan ucap (slips of the tongue), dan berbagai jenis lupa, yang dikenal sebagai represi (repression).
Sebenarnya, Freud bukanlah orang pertama yang menemukan ide tentang alam tidak sadar(unconsciousness), tapi dialah yang membuat ide tersebut menjadi terkenal, dan harus diakui, bahwa pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya.
Menurut Gerald Corey, bukti klinis untuk membenarkan alam ketidaksadaran manusia dapat dilihat dari hal-hal berikut, seperti :
  1. Mimpi; hal ini merupakan pantulan dari kebutuhan, keinginan dan konflik yang terjadi dalam diri.
  2. Salah ucap sesuatu; misalnya nama yang sudah dikenal sebelumnya.
  3.  Sugesti pasca hipnotik.
  4.  Materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas.
  5. Materi yang berasal dari teknik proyeksi, serta isi simbolik dari simptom psikotik.
3. Collective Unconsciousness
Ketidaksadaran kolektif istilah dari psikologi analitis, yang diciptakan oleh Carl Jung.  Hal ini diusulkan untuk menjadi bagian dari pikirin bawah sadar, dinyatakan dalam kemanusian dan semua bentuk kehidupan dengan sistem saraf, dan mmenjelaskan bagaimana struktur jiwa mandiri mengatur pengalaman. Jung dibedakan ketidaksadaran kolektif dari ketidak sadaran pribadi, dalam ketidaksadaran pribadi adalah reservoir pribadi pengalaman unik untuk setiap individu, sedangkan terkumpul ketidaksadaran kolektif dalam cara yang sama dengan masing-masing anggota dari suatu spesis tertentu.
Collective unconsciousness disebut juga transpersonal unconscious, konsep asli Jung yang paling kontroversial; suatu sistem psikis yang paling kuat dan paling berpengaruh, dan pada kasus-kasus patologik mengungguli ego dan ketidaksadaran pribadi. Menurut Jung, evolusi makhluk (manusia) memberi cetak biru bukan hanya mengenai fisik/tubuh tetapi juga mengenai kepribadian. Taksadar kolektif adalah gudang ingatan laten yang diwariskan oleh leluhur, baik leluhur dalam wujud manusia maupun leluhur pramanusia/binatang (ingat teori evolusi Darwin). Ingatan yang diwariskan adalah pengalaman-pengalaman umum yang terus menerus berulang lintas generasi. Namun yang diwariskan itu bukanlah memori atau pikiran yang spesifik, tetapi lebih sebagai predisposisi (kecenderungan untuk bertindak) atau potensi untuk memikirkan sesuatu. Taksadar kolektif merupakan fondasi ras yang diwariskan dalam keseluruhan struktur kepribadian. Di atasnya dibangun ego, taksadar pribadi dan pengalaman individu. Jadi apa yang dipelajari dari pengalaman secara substansial dipengaruhi oleh taksadar kolekif yang menyeleksi dan mengarahkan tingkah laku sejak bayi. Taksadar pribadi dan taksadar kolektif sangat membantu manusia dalam menyimpan semua yang telah dilupakan/diabaikan., dan semua kebijakan dan pengalaman sepanjang sejarah. Mengabaikan taksadar dapat merusak ego karena taksadar dapat membelokkan tingkah laku menjadi menyimpang seperti phobia, delusi, dan simptom gangguan psikologis. Isi utama dari taksadar kolektif adalah arketipe, yang dapat muncul ke kesadaran dalam wujud simbolisasi.
Daftar Pustaka:

Tabel Kerja Kelompok :
Nama
Tugas
Link
Anyssa Setiawati. A
(11513193)
Mencari Materi Global Brain dan Peran Internet, Consciousness, Unconsciousness, Collective Unconsciousness
Aryo Dwi Wahyu N
(11513418)
Mencari Materi Global Brain dan Peran Internet, Consciousness, Unconsciousness, Collective Unconsciousness
Anisa Cabella
(11513069)
Mencari Materi Global Brain dan Peran Internet, Consciousness, Unconsciousness, Collective Unconsciousness
Prista Dica Kurnia
(11513418)
Mencari Materi Global Brain dan Peran Internet, Consciousness, Unconsciousness, Collective Unconsciousness
Sarah Neta Rahmah
(18513264)
Mencari Materi Global Brain dan Peran Internet, Consciousness, Unconsciousness, Collective Unconsciousness
Ulfatus Saniyyah
(19513042)
Mencari Materi Global Brain dan Peran Internet, Consciousness, Unconsciousness, Collective Unconsciousness, serta mengedit dan merapihkan seluruh isi.
http://ulfatussaniyyah.blogspot.com